Lestarikan Tradisi, Siswa MTsN 2 Pati Meriahkan Sedekah Bumi Desa Soneyan Dukuh Sumber dengan Kreasi Ancak
Admin
4/30/20262 min read


PATI– Suasana khidmat bercampur meriah menyelimuti Dukuh sumber pada Kamis (30/4/2026). Warga dari berbagai RT tumpah ruah ke jalanan untuk merayakan tradisi tahunan Sedekah Bumi. Uniknya, perayaan kali ini tidak hanya diikuti oleh warga desa, tetapi juga melibatkan murid dari MTsN 2 Pati yang berlokasi di wilayah tersebut.
Puncak kemeriahan terlihat saat iring-iringan Ancak—wadah besar berisi gunungan hasil bumi—mulai diarak. Para murid MTsN 2 Pati tampak antusias menggotong ancak hasil kreasi mereka yang berisi perpaduan unik antara makanan tradisional, camilan modern, buah-buahan segar, hingga sayuran hasil bumi.
Menanamkan Filosofi Sejak Dini
Partisipasi aktif lembaga pendidikan ini bukan tanpa alasan. Pihak madrasah ingin para murid tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akar budaya yang kuat.
"Kami ingin menanamkan pada anak-anak rasa cinta terhadap budaya lokal. Melalui kegiatan ini, kami berharap budaya nusantara tidak tergerus oleh budaya asing yang belum tentu sesuai dengan karakter kita sebagai orang Indonesia,” ujar Zaenal Arifin (Kepala MTsN 2 Pati).
Antusiasme Pengurus OSIM
Di barisan depan rombongan madrasah, Ketua OSIM MTsN 2 Pati, Sbastyan, terlihat sibuk mengoordinasi rekan-rekannya. Menurutnya, persiapan untuk membuat ancak ini dilakukan secara gotong royong oleh para murid.
"Kami sangat bangga bisa ikut serta. Persiapannya seru, dari mengumpulkan snack sampai menata hasil bumi supaya terlihat menarik. Ini pengalaman yang beda dari belajar di kelas," kata Sbastyan penuh semangat.
Senada dengan Sbastyan, Febri, salah satu murid yang turut serta mengiringi ancak, mengaku senang bisa merasakan langsung kearifan lokal desanya.
"Capeknya tidak terasa karena ramai-ramai. Saya jadi lebih bangga dengan tradisi desa Soneyan. Rasanya senang bisa berbagi hasil bumi dengan warga lainnya," ungkap Febri.
Simbol Keharmonisan
Tradisi Sedekah Bumi Desa Soneyan Dukuh Sumber tahun 2026 ini kembali menjadi bukti kuatnya sinergi antara masyarakat desa dengan instansi pendidikan. Kehadiran ancak-ancak dari para murid tidak hanya menambah estetika pawai, tetapi juga menjadi simbol regenerasi budaya, memastikan bahwa nilai-nilai luhur Desa Soneyan akan tetap hidup di tangan generasi muda.


